arrow_back Back to article · Projects
Projects schedule 10 min read

Design Thinking Jadi Kunci Program Desaku Maju–GERCEP Melahirkan Agent of Change Desa di Lampung

Penerapan Design Thinking dalam Program Desaku Maju–GERCEP dalam mencetak agent of change desa melalui inovasi berbasis kebutuhan lokal dan penguatan kemandirian masyarakat

Design Thinking Jadi Kunci Program Desaku Maju–GERCEP Melahirkan Agent of Change Desa di Lampung
Ri

Rivaldi

Innovation Outreach and Operation Lead · 04 May 2026

Pembangunan desa kini bergerak ke arah yang lebih transformatif. Tidak lagi bergantung pada solusi dari luar, melainkan bertumpu pada kemampuan masyarakatnya sendiri dalam menciptakan inovasi. Melalui pendekatan Design Thinking, Program Pelatihan Vokasi Desaku Maju – Gerakan Cipta Ekonomi Produktif (GERCEP) yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Lampung dan dijalankan melalui kolaborasi strategis dengan PT Investasi Inovasi Indonesia (Innovesia), hadir sebagai upaya membentuk sumber daya manusia desa yang tidak hanya terampil, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan.

Pendekatan Design Thinking menjadi elemen kunci dalam program ini karena tidak hanya melengkapi peserta dengan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir problem solving yang berbasis empati dan kebutuhan nyata. Peserta dilatih untuk memahami persoalan di desa secara mendalam, merumuskan akar masalah, hingga mengembangkan solusi inovatif yang dapat langsung diterapkan di lingkungannya.

Lebih dari sekadar menghasilkan inovasi, program ini secara strategis diarahkan untuk mencetak Agent of Change atau agen perubahan di tingkat desa. Para peserta tidak lagi diposisikan sebagai penerima manfaat semata, melainkan sebagai individu yang mampu menularkan cara berpikir inovatif kepada masyarakat sekitarnya. Dengan bekal Design Thinking, mereka diharapkan mampu memicu lahirnya solusi-solusi baru, mendorong kolaborasi, serta mengembangkan potensi desa secara mandiri dan berkelanjutan.

Desa Marang, Kabupaten Pesisir Barat, menjadi salah satu lokasi implementasi pendekatan ini. Dari satu kelas pelatihan, peserta berhasil melahirkan empat prototipe inovasi berbasis kebutuhan riil masyarakat. Salah satunya adalah Centre Ikan “Way Mamata”, berupa konsep dermaga, tempat pelelangan ikan (TPI), serta marketplace digital yang dirancang untuk membantu nelayan meningkatkan efisiensi dan nilai jual hasil tangkapan.

Prototipe lainnya meliputi alat pengupas kelapa yang lebih aman dan efisien untuk meningkatkan produktivitas petani dan pelaku usaha, pupuk organik cair “Dewi Marang” yang memanfaatkan limbah kotoran ayam dan batang pisang sebagai alternatif pupuk, serta DAM Irigasi Sungai Marang berupa sistem pompa dan saluran irigasi untuk membantu petani mengatasi kekeringan dan menjaga produktivitas pertanian sepanjang musim.

Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) mengungkapkan, pendekatan Design Thinking mampu menumbuhkan semangat inovasi di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda desa. Ia menegaskan bahwa pembangunan desa harus berangkat dari kemandirian, di mana masyarakat mampu mengenali potensi dan permasalahan di lingkungannya sendiri, lalu merumuskan solusi yang relevan dan berkelanjutan.

“Saya melihat langsung semangat anak-anak muda di Desa Marang untuk berinovasi. Kita tidak bisa menunggu solusi datang dari luar desa, karena desa harus dibangun dengan semangat kemandirian, kedaulatan, dan kebangkitan melalui inovasi. Karena itu, Pemprov Lampung melatih pemuda-pemuda desa, tidak hanya di Marang tetapi di seluruh Lampung, agar mampu melahirkan inovasi sesuai karakter desanya. Hari ini sudah lahir ratusan inovasi baru, mulai dari alat pemecah kelapa hingga pupuk organik, yang langsung menjawab kebutuhan riil masyarakat dan menjadi lompatan kemajuan bagi desa,” ujar Mirza.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung, Agus Nompitu, menambahkan bahwa program ini telah menjangkau puluhan desa dengan ratusan peserta, tingkat kelulusan yang tinggi, serta menghasilkan ratusan karya inovasi berbasis permasalahan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberikan pendekatan yang tepat, mereka mampu menjadi aktor utama dalam pembangunan wilayahnya.

Founder Innovesia, Fiter Bagus Cahyono, menilai bahwa penerapan Design Thinking secara masif dalam program ini merupakan terobosan penting dalam pembangunan sumber daya manusia desa. Menurutnya, pendekatan ini bukan sekadar metode pelatihan, melainkan sebuah gerakan yang mendorong masyarakat untuk lebih adaptif, kreatif, dan mandiri dalam mengelola potensi daerahnya.

“Ini bukan sekadar pelatihan keterampilan, tetapi sebuah gerakan inovasi desa yang mendorong masyarakat untuk melihat, mengelola, dan mengembangkan potensi daerahnya secara mandiri dan berkelanjutan,” ujar Fiter.

Melalui Program Desaku Maju–GERCEP, terlihat jelas bahwa masa depan pembangunan desa terletak pada kemampuan manusianya dalam berinovasi. Ketika masyarakat desa mampu menjadi problem solver di lingkungannya sendiri dan menularkan budaya inovasi secara kolektif, maka pengembangan desa tidak hanya berjalan, tetapi juga tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan.

Komitmen Pemprov Lampung dalam mendorong inovasi desa melalui Program Desaku Maju turut mengantarkan provinsi ini meraih Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) 2025 dari Kementerian PPN/Bappenas, dengan predikat Provinsi Terbaik Ketiga Nasional. Penghargaan ini diberikan kepada daerah yang dinilai berhasil dalam perencanaan, pelaksanaan, dan inovasi pembangunan yang selaras dengan kebutuhan masyarakat. Program Desaku Maju menjadi salah satu faktor kunci capaian tersebut, sekaligus menegaskan bahwa inovasi berbasis desa merupakan fondasi utama menuju Lampung yang maju, berdaya saing, dan sejahtera.

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait